Rabu, 17 September 2014

Bidadari menurut Al-Qur'an dan Hadits

Allah subhanahu wa ta’ala akan menikahkan orang-orang mu’min di surga dengan wanita-wanita cantik yang bukan istri-istri mereka di dunia sebagai mana firman-Nya: “Demikianlah, dan kami nikahkan mereka dengan bidadari” (Q.S. Ad-Dukhan:54).

Al-Qur’an melukiskan bidadari sebagai perumpamaan berbadan indah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah-buah angur, dan gadis-gadis berbadan indah sebaya” (Q.S. An-Naba’: 31 – 33).

Bidadari dalah makhluq yang khusus diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para penduduk surga dan mereka adalah gadis-gadis perawan: "Sesungguhnya kami menciptakan merka (bidadari-bidadari) secara khusus, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Q.S. Al-Waqi’ah 35 - 37).

Fakta bahwa mereka perawan berarti bahwa mereka belum pernah dinikahi: ”…yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Q.S. Ar-Rahman:56).

Ayat di atas membantah pendapat bahwa istri-istri yang akan diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk penduduk surga adalah istri-istri mereka dalam kehidupan di dunia ini, yang diciptakan muda lagi untuk suami-suami mereka. Allah subhanahu wa ta’ala memang akan memasukkan wanita-wanita beriman ke dalam surga dengan memudakan merka kembali, tetapi mereka bukanlah bidadari khusus yang diciptakan Allah untuk penghuni surga.

Al-Qur’an juga menceritakan tentang kecantikan wanita-wanita di surga: ”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 22 - 23). Maknun (tersimpan baik) mengandung arti tersembunyi atau terlindungi, sehingga warnanya tidak berubah karena sinar matahari atau sengaja diubah. Di ayat lainnya Al-Qur’an menyamakan mereka dengan permata yaqut (ruby, batu merah delima) dan marjan: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukan pandangannya tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka (bidadari) bagai yaqut dan marjan.” (Q.S Ar-Rahman: 56 – 58).

Batu yaqut (ruby, batu merah delima) dan batu marjan adalah dua jenis permata yang tingi nilainya. Bidadari dalam ayat berikut digambarkan sebagai bidadari yang dipingit. Ini artinya mereka sangat membatasi penglihatan merka agar tidak melihat kepada lelaki selain para suami merka. Allah subhanuahu wa ta’ala juga menyatakan bahwa bidadari sangat cantik: ”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.” (Q.S. Ar-Rahman 70 - 72).

Wanita-wanita di surga tidak sama dengan wanita-wanita di dunia ini. Wanita-wanita surga bebas dari hal-hal seperti haid, nifas, buang air kecil dan besar, meludah dan sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan ayat, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (bebas dari haid, nifas dan sebagainya), dan merka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah:25).

Raulullah shallahu ‘alaihi wassalam menceritakan kepada kita tentang kecantikan para istri-istri penduduk surga. Imam Bukhary dan Muslim menceritakan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda; “Kelompok pertama yang akan masuk surga indah bagai bulan purnama, merka tidak akan meludah, membuang ingus, atau buang air. Bejana-bejana merka terbuat dari emas, sisir mereka terbuat dari emas dan perak, dan bakan dupa mereka dari kayu gaharu. Keringat mereka adalah kesturi."
Masing-masing mereka mempunyai dua orang istri yang tulang sumsumnya terlihat melalui kulit karena saking cantiknya (Fath al Bari, VI, hlm. 318). Betapa cantiknya mereka digambarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai, “Jika seorang wanita surga memandang ke dunia ini, ia akan memberikan cahaya dan bau wanginya kepada segala sesuatu yang terletak di antara keduanya (surga dan dunia). Kerudung yang menutupi kepalanya lebih baik dunia ini dan segala isinya” (Fath al Bari, VI, hlm. 15).

Jumlah istri minimal seorang lelaki surga adalah 72 orang. Menurut sebuah riwayat seorang syuhada akan mempunyai 72 bidadari surga sebagai istri. Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebauah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isisnya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memeberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya." (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).

Nyanyian Bidadari Surga
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa bidadari memiliki suara yang sangat merdu dan suka menyanyi di surga. Dalam Al-Mu’jam al-Awsath, Ath-Thabarani meriwayatkan dengan sanad yang shahaih dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘an huma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda; ”Istri-istri penduduk surga akan menghibur para suami mereka dengan nyanyian yang dibawakan dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar orang. Yang mereka nyanyikan adalah, “kami baik dan cantik, istri-istri dari orang mulia dan kami akan memandang suami-suami kami dengan puas dan bahagia.” Meraka juga akan menyanyikan, “Kami hidup kekal dan tidak pernah mati, kami hidup aman dan tidak merasa takut, kami tetap akan berada di sini dan tidak akan pergi.” (Shahih al-Jam’ash shaghir, II, hlm. 48 hadist no. 1557).

Samariah meriwayatkan dalam al-fawaid dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Bidadari dalam nyanyian mereka di surga berkata, “ Kami adalah bidadari-bidadari cantik. Kami dipingit untuk suami-suami yang mulia.” (Shahaih al-Jam’ash-shaghir, II, hlm.48. hadist no. 1598). N

Sabtu, 13 September 2014

Minta kesembuhan dari sakit kepada Allah SWT

Sakit setiap orang pastinya pernah sakit,dan setiap orang yang sakit pasti mengharapkan kesembuhan.Di samping ada dokter atau obat-obatan agar kita lekas sembuh seperti sediakala kita jangan lupakan Allah Swt karenaNYA kita hidup dan mati karena Allah swt pemilik segalanya.Kita wajib berdoa memohon kesembuhan kepadaNYA dan berusaha ingin sembuh dengan cara pergi ke dokter dan minum obat-obatan yang di anjurkan oleh dokter.Berikut ini adalah doa memohon kesembuhan atas penyakit yang di derita.

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ
أَذهِبِ البَأسَ
اشفِ…..!!!! أَنتَ الشَّافِيء
لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ
شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Bacaan Doa Mohon Kesembuhan Dari Penyakit dalam Bahasa Indonesia 
“Allahuma rabbannas,
adz-hibil ba’sa
isyfi ......!!!!!
antasy-syafi
la syifa’a illa syifa’uka,
syifa’an la yughadiru saqaman” 
Terjemahan Doa Mohon Kesembuhan Dari Penyakit 
Wahai Allah Tuhan manusia
Hilangkanlah rasa sakit ini
Sembuhkanlah…..!!!!! Engkaulah Yang Maha Penyembuh
Tidak ada kesembuhan yang sejati kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu
Yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan komplikasi rasa sakit dan penyakit lain

Pahala yang setara seperti Naik Haji

 

Ibnu Rajab menyebutkan didalam kitabnya, Latha ‘if Al-Ma’arif..sebuah bab khusus yg diberi judul: “Bab Amal yang Menggantikan Pahala Haji dan Umrah Ketika Tidak Mampu Menunaikannya”. Disebutkan di dalamnya macam-macam amal yg keutamaan dan pahalanya sama dengan pahala haji bagi yg tidak mampu menunaikannya.

Suatu hari, Asma binti Yazid Al-Anshari menghadap rasulallah,dan berkata: ”Ya Rasulullah! Aku datang menghadapmu mewakili wanita-wanita yang lain yang ada didunia ini. Atas nama mereka aku datang padamu mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan NabiNya.Tetapi mengapa kami harus berada dalam rumah memenuhi keinginan suami ,setelah itu hamil, melahirkan, kemudian menyusui dan mengurus anak-anak serta rumah? Dan mengapa kami tidak punya izin untuk shalat jum’at, mengubur mayat, menjenguk orang sakit ,naik haji, ikut perang dan lain-lain yang dilakukan oleh orang laki-laki? Apakah kami tak punya hak untuk mendapatkan pahala seperti mereka?"

Rasulullah menjawab: ”Wahai Asma! Kembalilah kerumahmu dan katakan pada kaum hawa bahwa mengurus suami ,anak dan rumah pahalanya lebih besar dari haji, perang dan lain-lain”.

Kemudian dalam Latha’if Al-Ma’arif tersebut dikatakan sebagai berikut, “Jika kamu ingin mendapatkan pahala haji, sementara kamu belum mampu menunaikannya, maka ada beberapa amal yg bisa kamu lakukan sebagai pengganti ibadah haji”:
1.       
   Berdzikirlah kepada Allah Ta’Ala setiap selesei sholat fardhu, yaitu membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
Dari Abu Darda Radhiyallahu Anhu, dia berkata,” kami berkata kepada Rasulullah saw, ‘Wahai rasulullah, orang2 kaya mendapatkan pahala haji, sementara kami tidakmampu menunaikannya, mereka berjihad dengan harta sementara kami tidak mampu berjihad karena kekurangan harta’.

Maka rasulullah bersabda:” Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yg lebih baik dari apa yg mereka dapatkan ? 

1. Bacalah tasbih sebanyak tigapuluh tiga kali, tahmid tigapuluh tiga kali, dan takbir tigapuluhempat kali setiap selesei shalat lima waktu”.(HR.Ahmad).

2.     2. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi shallalahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:” Barangsiapa menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid, kemudian duduk ditempat shalatnya untuk berdzikir kepada Allah Ta’Ala sampai matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yg menunaikan ibadah haji dan umrah yg sempurna, sempurna, sempurna”.

3. Menghadiri shalat jumat dari awal sampai akhir sebanyak empatpuluh kali shalat jumat berturut-turut sama pahalanya dengan ibadah pahala haji sunnah.

Said bin Al-Musayyib berkata;” Ibadah jumat lebih saya sukai daripada menunaikan haji sunnah. Sesungguhnya Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam mensejajarkan yg bersegera datang menunaikan shalat jumat seperti orang yg berkurban di Baitullah”.
Dan dalam hadist dhaif disebutkan,” shalat jumat adalah ibadah haji bagi orang-orang miskin”.

4. Keluar menuju masjid dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu dan shalat dhuha.

Abu Umamah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwa Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:” Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka pahalanya seperti pahala seorang haji dalam keadaan ihram. Dan barangsiapa yg menunaikan shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yg menunaikan ibadah umrah”.

5. Berbakti kepada kedua orangtua. Karena rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat untuk berbakti kepada ibu, lalu beliau bersabda,” Kamu seperti orang yg menunaikan haji, menunaikan umrah, dan orang yg berjihad”.

6. Keluar menunaikan shalat hari raya Idul Fitri pahalanya seperti pahala ibadah umrah.

Seorang sahabat berkata, Keluar untuk menunaikan shalat hari raya Idul Firi pahalanya seperti pahala ibadah umrah, sedangkan shalat di hari raya Idul Adha pahalanya seperti pahala ibadah haji.

7. Memenuhi kebutuhan saudaramu yang muslim ketika dalam kekurangan.

Ulama besar Hasan Al Basri berkata,” Memenuhi kebutuhan saudaramu yg muslim ketika dalam kesusahan pahalanya lebih baik daripada ibadah haji yg dilakukan berkali-kali”.

8. Uqbah bin Abdul Ghaffar berkata,” Shalat isya’ yg dilakukan dengan berjamaah di masjid pahalanya seperti pahala ibadah haji, dan shalat subuh yg ditunaikan dengan berjamaah di masjid pahalanya seperti pahala umrah”.

Sahabat Abu Hurairah pun berkata kepada seseorang,” Ketika kamu menunaikan shalat fardhu di masjid tepat waktu, lebih aku sukai daripada kamu berperang bersama Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam".

Wahai saudaraku, jangan bersedih..janganlah kamu tertipu oleh kebanyakan orang yg mampu menunaikan ibadah haji, karena kamu pun tidak mengetahui apakah hajinya diterima atau ditolak.

Sabtu, 06 September 2014

10 Perintah Allah SWT dalam Al-Qur;an

Nabi Musa a.s diutuskan untuk memerangi kejahatan dan membawa kebenaran khas untuk umat Bani Israel yang terkenal degil sejak zaman berzaman.Sungguh pun Allah S.W.T telah mengutuskan beberapa Rasul dan Nabi terbaik untuk umat atau bangsa Yahudi ini, mereka tetap sahaja berpaling dari jalan yang di kehendakNya.
Wahyu atau perintah yang di turunkan buat umat Bani Israel ini melalui Nabi Musa a.s berupa 10 perintah.Tidak lebih dan tidak kurang,tetapi di sebabkan keangkuhan dan kejahatan, mereka mengubah dan meninggalkan 10 Perintah yang di wahyukan kepada mereka.Mereka dengan perasaan tanpa malu dan bersalah telah mewujudkan sendiri Kitab yang di kenali sebagai Talmud dan meninggalkan Kitab Taurat yang terkandung 10 Perintah asal dari Allah S.W.T.
Malah sehingga kini mereka meletakkan kitab Talmud melebihi dari Kitab Taurat Allah S.W.T.Lihat petikan yang terdapat di dalam kitab Talmud mereka ini:
“Kitab Talmud berada di atas segala hukum.Talmud lebih penting daripada hukum Musa(Torah atau yang biasa di sebut sebagai Taurat).”
(Rabi Issael dan Rabi Chasbar)
Firman Allah S.W.T buat golongon ini yang mengubah-gubah Kitab
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.
Surah Al-Baqarah Ayat 79
Mari kita perhatikan 10 Perintah Allah S.W.T seperti yang terdapat di dalam Kitab Taurat.
.
Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda :
– “Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :
1· Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.
2. Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu niscaya aku peliharamu dari segala bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.
3· Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak niscaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.
4· Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.
5· Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.
6· Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.
7· Jangan mencuri dan jangan berzina isteri tetanggamu sebab niscaya Aku tutup wajah-Ku dari padamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.
8· Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.
9· Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.
10· Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi :
– “Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma’at sebagai hari raya untukku.”
Jika tangan-tangan manusia di biar menjaga Kitab-Kitab Allah S.W.T ,nescaya akan hancurlah Kitab2 tersebut seperti apa yang telah berlakau pada Kitab Taurat ,Zabur dan Injil.Maka Allah S.W.T telah berfirman yang Dia akan menjaga Kitab Terakhir iaitu Al-Quran seperti di bawah:
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qur’an Surat Al-An’am ayat 115)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9).